PURWODADI, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (Monev) bidang tanaman guna memastikan pertumbuhan tanaman jati berjalan optimal. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh jajaran petugas KPH Purwodadi bersama jajaran BKPH Bandung serta masyarakat penggarap (pesanggem) yang mengelola lahan dengan sistem tumpangsari, pada Jumat (24/04).
Monitoring dilakukan secara langsung oleh Kepala Sub Seksi Tanaman KPH Purwodadi bersama petugas BKPH Bandung di petak 46A RPH Dersemi BKPH Bandung dengan luas 12,10 hektare. Areal tersebut merupakan tanaman Jati Plus Perhutani (JPP) Stek Pucuk (SP) dengan tahun tanam 2025.
Dalam kegiatan tersebut, petugas melakukan pengecekan kondisi pertumbuhan tanaman pokok jati, tingkat keberhasilan tumbuh, serta perkembangan tanaman tumpangsari yang ditanam oleh masyarakat penggarap di sela-sela tanaman pokok. Dari hasil pemantauan di lapangan, tanaman jati menunjukkan pertumbuhan yang baik dan sehat, sementara tanaman tumpangsari yang dikelola masyarakat juga tumbuh dengan optimal.
Kegiatan monitoring dan evaluasi ini merupakan bagian dari upaya Perhutani dalam memastikan keberhasilan program penanaman sekaligus meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan melalui pola agroforestry atau tumpangsari.
Administratur KPH Purwodadi melalui Kepala Sub Seksi Tanaman KPH Purwodadi, Sunaryo, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi tanaman merupakan langkah penting untuk memastikan keberhasilan pertumbuhan tanaman sejak dini.
“Monitoring ini bertujuan untuk memastikan tanaman Jati Plus Perhutani yang ditanam dapat tumbuh dengan baik sesuai standar silvikultur yang telah ditetapkan. Selain itu, melalui sistem tumpangsari masyarakat juga dapat memanfaatkan lahan secara produktif sehingga memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan mereka,” jelas Sunaryo.
Sementara itu, Kepala BKPH Bandung, Sri Purwanto, mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lahan melalui sistem tumpangsari memberikan dampak positif bagi keberhasilan tanaman maupun hubungan kemitraan dengan Perhutani.
“Kami terus mendorong sinergi antara petugas Perhutani dan masyarakat penggarap agar bersama-sama menjaga tanaman yang ada. Dengan pengelolaan yang baik, tanaman pokok jati dapat tumbuh optimal dan masyarakat juga memperoleh manfaat ekonomi dari tanaman tumpangsari,” ungkapnya.
Di sisi lain, Suparmin, salah satu masyarakat penggarap (pesanggem), menyampaikan apresiasinya kepada Perhutani yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola lahan melalui sistem tumpangsari.
“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya sistem tumpangsari ini. Selain ikut menjaga tanaman jati agar tetap tumbuh baik, kami juga bisa menanam tanaman sela yang hasilnya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” tutur Suparmin.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut, diharapkan pertumbuhan tanaman jati dapat terus terjaga dengan baik serta terbangun komitmen bersama antara Perhutani dan masyarakat dalam menjaga keberhasilan tanaman demi kelestarian hutan yang berkelanjutan.
Editor: Aris